Project

Critical Context #1

Keberagaman bisa dibilang adalah salah satu aspek terkuat yang dipunyai oleh Indonesia. Keberadaan 1.340 suku bangsa (menurut survei BPS tahun 2010) adalah sebuah kondisi istimewa yang tidak dipunyai oleh negara manapun di bumi ini.

 

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih kurang 18.306 pulau (menurut data citra satelit dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan hampir dari 70% luasannya adalah lautan mendukung suburnya tradisi dan kebudayaan maritim sekaligus agraris. Kondisi ini adalah modal yang seharusnya terus digali dan diselami sebagai titik tolak berinovasi dan berkreasi.

Dalam konteks perancangan arsitektur, perspektif ini juga seharusnya ditanamkan. Arsitektur sebagai sebuah seni olah ruang seharusnya mampu mencerminkan keragaman tersebut. Pencerminan ini dapat dibangun lewat agenda-agenda dari tiap perancangan arsitektur yang berangkat dari situasi dan kondisi tempat arsitektur tersebut [akan] berada.

Lokakarya Critical Context bertujuan untuk menjadi laboratorium metode pembelajaran di studio perancangan arsitektur (pedagogi) yang dapat diterapkan pada situasi–kondisi yang beragam. Kami berpendapat bahwa agenda dari perancangan arsitektur seharusnya erat dengan isu-isu lokal, didekati dengan pemikiran-pemikiran lokal, dan menghasilkan solusi-solusi unik dan spesifik terhadapnya. Namun pedagogi dari tiap studio seharusnya mempunyai kualitas yang sama.

Tiap Unit akan mempunyai dua perwakilan (kelompok). Kelompok pertama adalah kelompok pengajar (Unit Master). Kelompok kedua adalah kelompok mahasiswa. Pengajar dari kegiatan ini tidak harus berkarir sebagai dosen, tetapi siapapun yang mempunyai minat akan pengajaran dan riset arsitektural. Peserta dalam kegiatan ini adalah mahasiswa aktif dan tidak terbatas pada angkatan.

David Hutama-

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

© 2019             by Kultur