Project

Critical Context #2

Nigel Cross dalam “Designerly Ways of Knowing 1 ” mengungkapkan bahwa disiplin perancangan, selaras dengan sifat intrinsiknya, mempunyai cara dalam mengetahui dan memahami sesuatu. Dan cara ini tidak lah sama dengan disiplin sains atau humanisme. Menurut Cross, perancang belajar (mengetahui, memahami, dan membangun pengetahuan) lewat proses dialektika dalam laku. Dalam proses melakukan sesuatu; membuat, merangkai, menghasilkan – terjadi sebuah proses kritik dan refleksi yang bermuara pada hadirnya sesuatu yang ‘baru’ (novelty).

Pin-up adalah sebuah metoda dalam pendidikan desain arsitektur yang mendorong terjadinya proses dialektika dalam laku ini. Sebuah bidang tempel yang diperlakukan bagai sebuah tapak dimana materi-materi desain disusun sedemikian rupa agar bisa tersampaikan dengan baik adalah sebuah proses ‘making’ tersendiri. Skala dan resolusi gambar, hirarki informasi, orientasi, dan komposisi adalah aspek-aspek yang digumuli dalam prosesnya..

Di masa dimana teknologi digital berlimpah ruah, tantangan terbesar yang ada adalah sejauh mana kita berhasil ‘ menjinakan’ teknologi-teknologi ini dan menjadikannya perangkat produksi kita. Salah satu solusi yang sejak awal abad ke-20 ditawarkan oleh BAUHAUS adalah dengan melatih integrasi olah pikir dan laku dan kepekaan indrawi. Dengan hadirnya integrasi ini, seorang desainer akan lepas dari ketergantungan dan dominasi alat.

Latihan Pin-up, adalah sebuah proses yang dihadirkan dengan semangat yang sama. Dimana para peserta dituntut untuk percaya diri menggubah komposisi dalam sebuah bidang dengan hanya mengandalkan pemikiran, kepekaan, dan tangan nya. Pin-up adalah sebuah dialektika dalam laku dengan sendirinya.
Dalam kesempatan penghujung acara dari Critical Context 2.0 ini, kami hendak menghadirkan Pin-up bukan sekedar sebagai sebuah latihan laku dalam desain tapi juga bentuk kolaborasi antara unit master dan peserta unit nya. Bahwa perancangan arsitektur pada dasarnya adalah sebuah proses kolektif.

 

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

© 2019             by Kultur