![]() |
| Mbeteng Sata di Desa Campurejo, Temanggung. |
TEMANGGUNG - Kabut tebal lereng Gunung Prau selalu punya cara tersendiri untuk menyembunyikan cerita. Di Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Temanggung, sebuah gundukan tanah menyimpan jejak tersembunyi dari pelarian sejarah yang panjang. Tempat itu kini dikenal sebagai wisata alam Mbeteng Sata.
Bagi siapapun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Desa Campurejo, pandangan mata hampir pasti akan langsung tertuju pada sebuah bangunan unik. Arsitekturnya mencolok, berdiri tegak mirip kastel kerajaan lengkap dengan menara intainya. Namun, jangan sampai salah paham. Dinding-dinding kokoh itu bukanlah struktur purba yang selamat dari hantaman meriam zaman kolonial, melainkan sebuah bangunan baru alias buatan yang sengaja didirikan untuk menghidupkan kembali memori masa lalu yang sempat rata dengan tanah.
Ingatan Dua Zaman di Tengah Lahan Tembakau
Jauh sebelum kastel buatan ini berdiri pada tahun 2018, wujud asli Mbeteng Sata hanyalah sebuah gundukan tanah biasa. Dari gundukan tanah inilah, ingatan masyarakat lokal terbelah menjadi dua versi cerita. Versi pertama, kawasan ini menjadi tempat penyelamatan pada era pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu tengah berkecamuk pergolakan DI/TII yang membuat kawasan perbukitan sunyi ini menjadi tempat pelarian dan persembunyian komunal bagi warga sekitar untuk menyelamatkan diri.
Namun, jika ditarik jauh ke belakang, Mbeteng Sata menyimpan riwayat yang jauh lebih tua: Perang Jawa (1825–1830). Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap secara licik oleh Belanda di Magelang pada tahun 1830, sisa-sisa laskar pasukannya yang menolak menyerah memilih mundur teratur ke arah utara, membelah lereng Gunung Prau.
Salah satu rombongan pelarian tersebut dipimpin oleh seorang panglima perang bernama Kyai Surodipo (yang dikenal juga dengan nama Kyai Suto Mrico). Kyai Surodipo menyadari betul keunggulan geografis bukit di Campurejo ini. Ia lantas menjadikannya sebagai pos pantau perang gerilya sekaligus benteng pertahanan rahasia untuk mengawasi setiap gerak-gerik serdadu kolonial Belanda yang merangsek naik.
Telik Sandi Bunga Kantil dan Curug Perjuangan
Riwayat perjuangan sang panglima tidak berhenti di bukit ini saja. Nama Kyai Surodipo kini abadi menjadi nama destinasi wisata air terjun, Curug Surodipo, yang terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo.
Menariknya, jalur pelarian dari Campurejo hingga Tawangsari memendam sebuah taktik komunikasi rahasia ala telik sandi (mata-mata). Di sepanjang rute gerilya tersebut, banyak tumbuh pohon bunga kantil kuno. Bagi warga lokal, keberadaan pohon-pohon kantil tua ini diyakini bukan sekadar kebetulan alam, melainkan sebuah lambang atau kode khusus yang sengaja ditanam sebagai penanda jalur pelarian rahasia bagi para pengikut setia Diponegoro agar terhindar dari serbuan Belanda.
Secara filosofis, nama tempat ini mengikat erat identitas alam dan fungsinya. Mbeteng berarti benteng pertahanan, sedangkan Sata (dalam bahasa Jawa kuno dibaca 'sotho') memiliki arti tembakau. Dibangun kembali pada tahun 2018, tempat ini seolah berevolusi. Maksudnya, jika dulu Mbeteng Sata menjadi tempat pelarian dari desing peluru, kini ia dirancang sebagai tempat "pelarian" yang menenangkan dari kesumpekan hidup modern.
Menatap Sunrise di Lautan Tembakau
![]() |
| Sketsa visual Mbeteng Sata Campurejo Temanggung oleh Nugraha Pratama (Instagram @nugraha.pr) |
Daya pikat magis Mbeteng Sata inilah yang menuntun banyak langkah kaki untuk datang. Travel sketcher Nugraha Pratama, yang sempat mengabadikan tempat ini lewat goresan visualnya, menuturkan sebuah impresi yang kuat:
"Mbeteng Sata ini titik paling istimewa buat berburu fajar. Kalau cuaca lagi bersih, dari satu titik ini aja kita bisa lihat siluet raksasa berderet gunung: Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Sigandul, Andong, Prau, sampai Ungaran."
Bukan cuma Nugraha, figur publik seperti Najwa Shihab, pakar kuliner legendaris William Wongso, hingga culinary storyteller Ade Putri Paramadita pun tercatat pernah meluangkan waktu untuk menyesap atmosfer sunyi di tempat ini.
Jika tertarik, datanglah saat pagi hari demi mengejar momentum sunrise. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah antara bulan Juni sampai Agustus. Pada bulan-bulan kemarau tersebut, tanaman tembakau di sekeliling Mbeteng Sata sudah tumbuh besar, berdaun lebat, menghijau subur, dan siap memasuki masa panen raya. Berdiri di sana, di tengah kepungan lautan hijau daun tembakau dan dinginnya kabut Tretep, adalah cara terbaik untuk meraba kembali sisa-sisa keteguhan para pejuang masa lalu yang menolak tunduk pada zaman.
Terbaru
Lebih lama

.png)


